Alex Martins mendapat kesempatan mengulang penalti, tetapi Persebaya tetap pulang tanpa gol. PSM Makassar menang 1-0 pada pekan keenam BRI Super League 2026/2027 di Stadion Gelora B. J. Habibie, Parepare, Kamis, 22 Oktober 2026. Gol bunuh diri Yuran Fernandes pada menit ke-74 menjadi satu-satunya pembeda.
Drama di penghujung pertandingan membuat kekalahan pertama Bajul Ijo musim ini terasa menyakitkan. Di sisi lain, PSM memperoleh kemenangan kedua secara beruntun setelah menundukkan PSIM Yogyakarta 2-1. Pertandingan ketat ini menyisakan pembahasan tentang perubahan selepas jeda, kesempatan menyamakan skor, dan keberhasilan tuan rumah mempertahankan hasil.
Reza Arya Menahan PSM Sebelum Jeda
Babak pertama berakhir 0-0, dengan Reza Arya menjadi salah satu alasan Persebaya masih berada dalam pertandingan. Laporan resmi klub mencatat penjaga gawang tersebut mengatasi ancaman PSM pada menit ke-17 dan ke-21. Ia kembali mengamankan tembakan jarak jauh pada menit ke-34.
Rangkaian itu menunjukkan bahwa pekerjaan Persebaya tidak hanya membangun serangan. Mereka juga harus memastikan tekanan tuan rumah tidak berubah menjadi keunggulan. Penyelamatan Reza menjaga kesempatan untuk menyesuaikan permainan saat jeda, ketika staf pelatih masih dapat mengambil keputusan tanpa beban mengejar ketertinggalan.
Pelatih PSM Darije Kalezic menilai timnya mengendalikan babak pertama melalui sirkulasi bola yang mendorong Persebaya mundur. Namun, ia juga mengakui jumlah peluang yang diciptakan belum sebanding dengan keinginannya. Pengakuan ini membedakan penguasaan arah pertandingan dari kemampuan menghasilkan kesempatan yang benar-benar matang.
Bagi PSM, menggerakkan bola dengan baik merupakan fondasi, tetapi keuntungan belum terbentuk di papan skor. Selama kedudukan tetap imbang, Persebaya masih memiliki kesempatan mengubah pertarungan. Karena itulah jeda menjadi titik penting, bukan hanya waktu beristirahat setelah dua tim gagal mencetak gol.
Tavares Mengubah Pilihan Serangan
Bernardo Tavares memasukkan Toni Firmansyah dan Alex Martins setelah turun minum, menggantikan Rachmat Irianto serta Diogo Ramalho. Laporan pertandingan Persebaya menghubungkan pergantian tersebut dengan usaha menambah daya gedor. Toni kemudian mengirim tembakan ke arah gawang pada menit ke-49, meskipun belum menghasilkan keunggulan.
Miguel Pereira juga mempunyai kesempatan pada menit ke-59, sebelum upaya Alex membentur mistar sekitar satu menit kemudian. Dua kejadian itu memberi konteks terhadap perubahan pertandingan. Persebaya mulai memperoleh situasi yang memungkinkan mereka memecah kebuntuan, sehingga hasil akhirnya tidak cukup dijelaskan sebagai tim tamu yang terus bertahan.
Kalezic mengakui perubahan taktik Tavares membuat pemain PSM perlu beradaptasi. Menurut pelatih tuan rumah, Persebaya memulai babak kedua dengan lebih dominan. PSM kemudian berusaha menggunakan ruang di belakang pertahanan lawan, sebuah respons yang memperlihatkan bahwa kedua pelatih membaca perkembangan pertandingan secara aktif.
Hubungan tersebut menarik untuk diperhatikan. Ketika satu tim menaikkan keberanian, lawan bisa mendapatkan kesempatan berbeda untuk menyerang. Penilaian atas pergantian karena itu perlu mencakup dua arah: apakah peluang bertambah, sekaligus apakah tim masih mampu mengamankan ruang yang muncul setelah pilihan bermain berubah.
Gol Bunuh Diri Mengubah Beban Pertandingan
Pada menit ke-74, usaha Yuran mengantisipasi bola justru mengirimkannya ke gawang sendiri. PSM memperoleh keunggulan yang dicari, sementara Persebaya kini harus mengejar gol dengan waktu tersisa semakin terbatas. Status gol bunuh diri penting dipertahankan agar pembaca tidak mendapat nama pencetak gol yang keliru.
Tavares menyayangkan bahwa timnya justru kebobolan melalui tindakan pemain sendiri. Meski begitu, satu kejadian tidak menghapus pekerjaan Reza pada babak pertama maupun peluang yang hadir selepas jeda. Kekalahan perlu dibaca sebagai gabungan kesempatan yang tidak selesai dan kesalahan yang mempunyai akibat langsung.
Situasinya berbalik dari kemenangan Persebaya 1-0 atas Isenmulang. Saat itu, penalti Alex membantu Bajul Ijo menjaga keunggulan tipis. Di Parepare, mereka berada di pihak yang mengejar hasil, lalu melihat kesempatan melalui titik putih tidak memberikan gol yang dibutuhkan.
Perbandingan ini menjelaskan mengapa eksekusi yang sama tidak selalu memberi hasil serupa pada pertandingan berbeda. Pemain harus menghadapi penjaga gawang, tekanan skor, dan keadaan saat itu. Untuk Persebaya, evaluasinya sebaiknya membantu penyerang mengambil keputusan berikutnya dengan lebih baik, bukan berhenti pada menyalahkan satu nama.
Satu Penalti, Dua Eksekusi, Tanpa Gol Balasan
Peluang penyama muncul pada masa tambahan waktu setelah Risto Mitrevski dilanggar di kotak terlarang. Wasit menunjuk titik putih sesudah meninjau VAR. Alex menjadi eksekutor, tetapi penjaga gawang PSM berhasil menggagalkan tendangannya. Pelaksanaan kemudian diulang karena kiper dinilai bergerak lebih dahulu.
Eksekusi ulang kembali gagal menghasilkan gol. Artinya, ini adalah satu keputusan penalti dengan dua pelaksanaan, bukan dua pelanggaran penalti yang terpisah. Perbedaan tersebut perlu jelas karena frasa dua penalti dapat memberi kesan keliru tentang jumlah insiden yang terjadi di dalam kotak terlarang.
Keberhasilan penjaga gawang PSM pada kesempatan ulang memastikan perubahan keputusan wasit tidak membatalkan keuntungan tuan rumah. Setelah harus kembali menghadapi algojo, ia masih mampu menutup peluang balasan. PSM pun menyelesaikan pertandingan dengan gawang bersih, sedangkan delapan menit tambahan tidak cukup bagi Persebaya untuk menyelamatkan poin.
Catatan klasemen juga memperlihatkan perbedaan perjalanan keduanya. PSM kini memiliki dua kemenangan, dua hasil imbang, dan dua kekalahan. Persebaya masih lebih sedikit kalah, tetapi tiga hasil imbang membuat keunggulan poinnya tidak besar. Jadi, rekor sulit dikalahkan belum tentu menghasilkan jarak aman apabila kemenangan belum cukup sering diperoleh.
Bagi Juku Eja, dua kemenangan terakhir menghasilkan enam poin dari total delapan yang dikumpulkan. Perubahan itu memberi bobot tambahan kepada hasil di Parepare: mereka mulai mengubah pertandingan menjadi kemenangan setelah empat laga pertama belum memberikan hasil serupa. Tugas berikutnya adalah mempertahankan cara merespons lawan ketika kendali tidak langsung menghasilkan gol.
Persebaya, sebaliknya, harus menghubungkan perbaikan permainan babak kedua dengan hasil. Peluang setelah pergantian sudah muncul; ketepatan sentuhan akhir akan menentukan apakah perubahan berujung kebangkitan atau kembali menyisakan penyesalan bagi pendukungnya.
Persebaya Segera Menghadapi Madura United
Klasemen sementara pada Jumat pagi, 23 Oktober 2026, menempatkan Persebaya di urutan kesembilan dengan sembilan poin dari enam laga. PSM berada tepat di bawahnya, mengumpulkan delapan poin dari jumlah pertandingan yang sama. Jarak keduanya kini hanya satu poin setelah kemenangan tuan rumah.
Agenda berikutnya sudah menanti Persebaya: menjamu Madura United di Stadion Gelora Bung Tomo, Senin, 26 Oktober 2026, pukul 19.00 WIB. Calon lawan datang dengan modal kemenangan 1-0 atas Persib, sehingga kesiapan penyelesaian akhir Bajul Ijo akan kembali mendapat ujian.
Tavares meminta tim mengambil pelajaran dan segera mengalihkan fokus. Arah itu patut diterjemahkan menjadi pekerjaan konkret: mempertahankan peluang yang muncul setelah jeda, mengurangi kesalahan saat menghadapi kiriman bola lawan, dan memulihkan keyakinan eksekutor. PSM sudah memperoleh hasil; Persebaya perlu memastikan kekecewaan di Parepare menghasilkan perbaikan.
Tidak ada komentar